
Pasar modal terus berkembang menjadi salah satu sarana investasi yang diminati banyak orang, khususnya generasi muda yang ingin mengembangkan aset dalam jangka panjang. Namun, minat yang tinggi sering kali tidak diimbangi pemahaman yang cukup mengenai apa itu saham, termasuk jenis-jenis instrumen yang memiliki risiko tinggi seperti saham gorengan.
Dengan memahami mekanisme dasar dan karakteristik saham yang sehat, investor bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan terhindar dari potensi kerugian besar.
Apa Itu Saham Gorengan?
Sebelum memahami lebih jauh apa itu saham gorengan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu saham secara umum. Saham merupakan bukti kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan. Ketika seseorang membeli saham, mereka secara tidak langsung memiliki sebagian dari perusahaan tersebut dan berhak atas keuntungan perusahaan sesuai porsi kepemilikannya.
Namun, dalam realitanya, terdapat saham yang bergerak tidak wajar akibat manipulasi harga oleh pihak tertentu. Inilah yang disebut sebagai saham gorengan. Jenis saham ini biasanya berasal dari perusahaan dengan fundamental lemah, tetapi harganya melonjak drastis dalam waktu singkat karena manipulasi demi keuntungan pihak tertentu. Lonjakan tersebut bukan terjadi karena kinerja perusahaan, melainkan karena aktivitas spekulatif yang membuat harga saham terlihat menarik di mata investor awam.
Kenapa Disebut Gorengan?
Istilah saham gorengan muncul karena pergerakannya yang panas, cepat, dan terlihat menggoda, seperti makanan yang baru selesai digoreng. Namun, di balik tampilan menarik tersebut, terdapat risiko tinggi yang sering kali tidak dipahami oleh investor pemula. Fenomena ini membuat banyak orang bertanya kembali apa itu saham dan bagaimana membedakan instrumen sehat dengan yang berisiko tinggi.
Baca juga: Tips Mengurangi Risiko Investasi pada Saham
Ciri-Ciri Saham Gorengan
1. Pergerakan Harga Tidak Wajar
Salah satu ciri paling terlihat adalah lonjakan harga yang terjadi tiba-tiba dan drastis tanpa adanya berita atau laporan kinerja perusahaan yang mendukung. Harga bisa naik ratusan persen dalam waktu singkat, lalu turun kembali dengan cepat. Pola ini sering membuat investor yang belum memahami apa itu saham dengan baik menjadi tergoda untuk ikut membeli karena takut ketinggalan momentum.
2. Likuiditas Rendah
Ciri berikutnya adalah likuiditas yang tipis. Saham gorengan biasanya tidak memiliki volume transaksi besar secara konsisten. Volume hanya meningkat ketika sedang dimainkan oleh pihak tertentu. Akibatnya, investor akan kesulitan menjual saham kembali ketika harga mulai turun. Kondisi ini menimbulkan jebakan likuiditas yang sangat merugikan.
3. Fundamental Perusahaan Lemah
Kebanyakan saham gorengan berasal dari perusahaan dengan performa tidak stabil, utang besar, atau bahkan tidak memiliki prospek bisnis yang jelas. Ketika mempelajari apa itu saham, investor seharusnya memahami bahwa nilai saham idealnya mencerminkan kondisi perusahaan. Namun pada saham gorengan, harga tidak lagi relevan dengan fundamental sehingga sangat berbahaya.
Baca juga: Cara Memahami Keuntungan Investasi Saham
Bahaya Saham Gorengan
1. Risiko Kerugian Sangat Tinggi
Bahaya terbesar dari saham gorengan adalah potensi kerugiannya yang bisa mencapai hampir seluruh modal. Harga yang naik cepat biasanya tidak bertahan lama. Ketika bandar atau pihak penggerak harga menarik dana mereka, harga akan jatuh bebas. Investor yang tidak siap memahami apa itu saham dan mekanisme pasar sering terjebak di posisi harga tertinggi dan mengalami kerugian besar.
2. Manipulasi Harga
Saham gorengan sangat rentan terhadap manipulasi oleh pihak berkepentingan. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan investor pemula yang belum benar-benar memahami apa itu saham dengan benar. Praktik manipulasi ini bertujuan menciptakan ilusi kenaikan harga sehingga investor masuk ke pasar. Setelah banyak yang membeli, harga diturunkan kembali sehingga investor ritel mengalami kerugian.
3. Membuat Investor Salah Memahami Investasi
Ketika mengalami kerugian besar dari saham gorengan, banyak investor menyimpulkan bahwa pasar saham berbahaya. Padahal, risiko tersebut muncul bukan karena saham secara umum, tetapi karena jenis saham yang tidak sehat. Pemahaman menyeluruh tentang apa itu saham sangat penting agar investor dapat membedakan instrumen investasi sehat dan spekulatif.
Cara Menghindari Saham Gorengan
1. Cek Fundamental secara Menyeluruh
Meninjau laporan keuangan, pertumbuhan pendapatan, dan kondisi utang dapat membantu investor menghindari saham gorengan. Perusahaan yang memiliki kinerja stabil cenderung memiliki harga saham yang sejalan dengan fundamentalnya. Memahami apa itu saham juga berarti memahami bahwa nilai perusahaan adalah dasar utama dalam analisanya.
2. Perhatikan Volume dan Likuiditas
Saham yang sehat cenderung memiliki volume transaksi besar dan konsisten. Jika sebuah saham jarang diperdagangkan tetapi tiba-tiba menjadi ramai, hal tersebut perlu dicurigai. Pengetahuan mengenai apa itu saham membantu investor memahami bahwa likuiditas adalah salah satu aspek penting dalam keputusan investasi.
3. Hindari Saham dengan Kenaikan Tidak Masuk Akal
Jika harga suatu saham naik tanpa alasan jelas, kamu sebagai investor perlu waspada. Melihat berita, laporan perusahaan, atau analisis pasar adalah langkah yang bisa membantu mengambil keputusan lebih aman. Investor yang sudah memahami apa itu saham cenderung lebih berhati-hati dalam menghadapi pergerakan tidak wajar.
Baca juga: Belajar Investasi Saham untuk Pemula dengan Fundamental
Penutup
Memahami apa itu saham bukan hanya mengetahui bahwa saham adalah surat kepemilikan perusahaan, tetapi juga mengerti jenis-jenis saham yang beredar di pasar dan risikonya. Saham gorengan adalah salah satu instrumen berbahaya yang sering menjebak investor pemula karena pergerakan harganya yang menggoda.
Dengan memahami apa itu saham gorengan, mengenali ciri-cirinya, dan mewaspadai bahayanya, kamu dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan menghindari kerugian besar. Pemahaman yang tepat akan membantu membangun strategi investasi yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan di pasar modal.